ANTIS (anti SM*SH) pasti akan menjawab, mimpi kali. Sebaliknya, Smashblast akan mendukung
“go international” bukan cuma mimpi kosong personel dan manajemen SM*SH. Tapi mungkinkah?
Beberapa artis Indonesia era 2000 dengan enteng menyebut
“go international”
kalau ditanya target karirnya oleh wartawan. Ada yang memang serius dan
melakukan aksi nyata untuk go international, banyak juga yang sekadar
basa-basi.
Daripada repot mikirin jawaban, mending bilang aja go international
biar wartawan puas, dan lalu mengutip di artikel yang ditulisnya. Agnes
Monica bisa disebut salah satu artis Indonesia yang dengan percaya diri
berani bermimpi
go international dan mengupayakan dengan
serius. Banyak juga artis Indonesia yang sama sekali tak pernah mengaku
akan go international, tapi lumayan populer di beberapa negara tetangga.
Kalimat
go international ini belakangan juga dilontarkan
boyband SM*SH. Seperti ditulis situs ini kemarin, mereka akan mengawali
dengan konser di tiga negara ASEAN, Malaysia, Singapura dan Brunei. Di
negara ini, seperti band Indonesia populer lainnya, SM*SH punya
penggemar lumayan banyak. Setelah Asia bisa ditaklukkan, mereka ingin
menembus pasar Amerika. Sampai detik ini Amerika masih menjadi pusat
musik dunia. Pemusik dari berbagai penjuru dunia harus ke Amerika lebih
dulu kalau ingin menjangkau pasar seluas-luasnya.
Mendengar impian
go international SM*SH, Smashblast
mendukung penuh antusias. Sementara yang tak suka SM*SH, menertawakan,
mencela, dan menganggap igauan di siang bolong semata. Antis menganggap
SM*SH tak cukup berkualitas untuk bisa menembus pasar Amerika.
Tapi mungkin nggak sih SM*SH benar-benar bisa go international? Di
dunia ini segalanya mungkin terjadi (mengutip nasihat yang sering kita
dengar), kalau Tuhan menghendaki. Apa kira-kira syarat yang harus
dipenuhi agar keinginan go international SM*SH bukan basa-basi seperti
sering kita dengar?
Di awal kelahirannya, banyak yang mengecam SM*SH plagiat, pengekor
yang memanfaatkan demam K-Pop yang tengah melanda Indonesia. Sebetulnya
tak cuma SM*SH, banyak boyband bahkan band yang lahir dengan
memanfaatkan tren yang sedang berlangsung. Tapi seperti yang kita lihat
sekarang, SM*SH yang dituding plagiat ternyata juga melahirkan banyak
pengekor. Di Indonesia SM*SH justru pelopor kelahiran boy/girlband yang
sekarang mewabah.
Rasanya tak ada yang menyangkal popularitas yang kini tengah
direngkuh SM*SH. Tabloid dan majalah yang memasang foto mereka di cover
laris manis. Acara TV yang menampilkan mereka ratingnya tinggi.
Komunitus penggemarnya tersebar di mana-mana, dan dengan bangga
mencantumkan nama kota mereka sebagai bagian dari identitas Smashblast.
Selain tudingan plagiat, juga banyak yang meragukan kemampuan SM*SH
berolah vokal. Menyanyi dalam grup, apalagi sambil menari dengan gerakan
atraktif seperti sering diperagakan boy/girlband, jelas tidak mudah.
Bahkan penyanyi dengan kualitas vokal memadai pun belum tentu bisa
melakukan. Tapi namanya boyband harus bisa melakukan itu, menyanyi
sambil menari dengan vokal tetap terjaga dan gerakan padu. SM*SH harus
lebih dulu membungkam keraguan publik dengan menunjukkan bisa menyanyi
dan menari dengan sama bagusnya. Kalau urusan teknis ini sudah selesai,
giliran tugas manajemen mereka yang harus bekerja keras.
Bagi artis, penyanyi, boy/girlband kelas dunia, peran manajemen
sangat vital. Bagaimana mengemas dan sekaligus menjajakan artis
bimbingan mereka, membutuhkan ketrampilan pengalaman juga kejelian.
Artis sangat berpotensi pun bisa gagal di tangan manajemen yang buruk.
Tapi manajemen paling canggih sekali pun akan kesulitan menjual artis
yang tidak berpotensi.
Manajeman SM*SH sudah punya modal berhasil menjadikan SM*SH boyband
paling populer di negeri ini. Tapi bisakah mereka membawa SM*SH
go international? Bagaimana menurut kamu? Apa yang harus dilakukan manajemennya agar SM*SH benar-benar bisa
go international?
(Source: tabloidbintang.com )